Cara Menghitung Pajak Travel dan Terhindar Dari Pengeluaran Berlebih

Segala aktivitas jual-beli yang bersifat resmi pastinya memiliki pajak. Secara sederhananya, jenis pajak yang mengatur roda ekonomi di negara kita disebut sebagai PPN.

Memiliki kepanjangan Pajak Pertambahan Nilai, PPN ini selalu dibebankan sebesar 10% dari harga jual suatu barang atau jasa – termasuk ketika kita ingin jalan-jalan, entah itu mengelilingi tempat-tempat dalam negeri atau bahkan sampai mancanegara.

Begitupun saat kita berbelanja di luar negeri, maka akan ada pajak bea yang harus dibayarkan. Dengan begitu, harap untuk tidak membawa terlalu banyak barang bawaan dari luar ke dalam negeri karena bisa menjadi bumbu tambahan bagi dompet kita.

Menggunakan jasa agen atau biro perjalanan juga tentunya akan dikenai pajak, secara sadar ataupun tidak sadar. Soalnya, kebanyakan agen dan biro perjalanan senantiasa memberikan harga yang sudah termasuk ke dalam pajak.

Namun ada pula beberapa penyedia jasa yang hanya memberikan harga asli dari produk yang mereka tawarkan. Ini ditujukan agar harga nampak jauh lebih murah dibandingkan dengan para pesaing. Sebagai gantinya, kita sebagai konsumen seringkali merasa terkaget-kaget ketika ada biaya tambahan yang dibebankan berupa PPN.

Agar pengalaman jalan-jalan kamu menjadi tidak rancu akibat harga produk jasa yang mencengangkan, maka mulai dari sekarang wajib untuk mengetahui cara menghitung pajak travel sebelum mengambil jenis paket apapun di agen dan biro perjalanan. 

Rumus Menghitung Pajak Travel

Tenang saja! Rumus dan penjelasan yang dijelaskan di sini sangat sederhana – berbeda dengan tempat lain yang berbelit-belit dengan bahasa yang sulit dimengerti. 

Sebenarnya kamu tak perlu tahu mengenai rumus ini jika biro atau agen travel yang kamu pilih sudah memasukan pajak ke dalam harga paket yang mereka jual.

Namun lain lagi ceritanya jika mereka memberikan embel-embel keterangan berupa “harga paket belum termasuk pajak”.

Amannya adalah selalu bertanya kepada biro perjalanan mengenai harga paket yang mereka tawarkan, "apakah sudah termasuk pajak atau belum".

Dengan begitu, kita wajib menghitung pajak yang akan dibebankan agar bisa mempersiapkan budget jalan-jalan menjadi lebih sempurna, atau bisa digunakan sebagai perbandingan dengan agen dan biro travel lainnya. 

Namun sebelum kita mulai, wajib mengetahui terlebih dahulu apa itu PPN dan DPP, karena kedua istilah ini akan kita masukan ke dalam rumus pajak travel yang akan kita hitung. 

PPN dan DPP

Saat berbicara mengenai paket wisata, maka ada sebuah istilah yang mungkin bisa bikin kamu pusing tujuh keliling, yaitu DPP Nilai Lain. 

Nah, DPP Nilai Lain ini nantinya akan menjadi salah satu rumus untuk mendapatkan nilai PPN yang kita cari.

Sebagai gambaran, menteri keuangan telah menetapkan beberapa jenis usaha yang termasuk ke dalam DPP Nilai Lain, diantaranya:

  • Pemakaian Sendiri BKP/JKP
  • Pemberian Cuma-Cuma BKP/JKP
  • Penyerahan Media Rekaman Suara/Gambar
  • Penyerahan Film/Cerita
  • Persediaan BKP Saat Pembubaran
  • Aktiva Semula Tidak Untuk Dijual
  • Penyerahan Jasa Biro Perjalanan dan Jasa Biro Pariwisata
  • Jasa Pengiriman Paket
  • Jasa Anjak Piutang
  • Penyerahan Cabang ke Pusta dan Sebaliknya
  • Penjualan Voucher Hotel

Seperti yang bisa kamu lihat pada kata yang di-bold dan garis bawahi di atas, biro travel tentunya termasuk ke dalam bagian DPP. Nah, DPP Nilai Lain ini memiliki tarif 10%, sementara PPN adalah 10%-nya dari total DPP.

Jika masih bingung, mari kita lihat contoh cara menghitung pajak travel di bawah ini. Toh, contoh dan praktek memang lebih mudah dimengerti daripada sekedar teori!

Contoh Transaksi Biro Perjalanan

Misalnya kamu ingin membeli paket wisata seharga 20 juta dari biro perjalanan InfoHotel.co.id. Maka rumus dan penghitungan pajaknya adalah sebagai berikut:

  • Harga Paket Wisata = Rp. 20.000.000
  • DPP Nilai Lain (10% x Harga Paket Wisata) = Rp. 2.000.000
  • PPN (10% x DPP Nilai Lain) = Rp. 200.000

Ingat, rumus di atas itu baru berupa hitung-hitungan harga paket wisata saja, dan belum termasuk pembelian tiket pesawat jika kamu memesannya secara terpisah.

Kamu juga akan dibebankan biaya bea cukai jika berbelanja barang-barang super banyak di luar negeri. Berbelanja terlalu rakus pun sebenarnya tidak baik bagi kesehatan dompet kita. 

Seperti yang kita tahu bahwa kita dijatahi barang bawaan antara sebesar 15-40 KG per orang saat bepergian menggunakan pesawat. Jika lebih daripada itu, maka ada biaya tambahan untuk dibayarkan.

Pernah ada sebuah kasus seseorang membawa terlalu banyak barang di pesawat saat pulang dari Jepang ke Indonesia, sehingga harus didenda 10.000 yen (Rp. 1,3 juta).

Secara detailnya, kelebihan barang angkutan di pesawat dihargai antara $10-$15/kg untuk perjalanan internasional, dan Rp.117.000/kg untuk penerbangan dalam negeri.

Kejadian ini seringkali muncul pada orang yang baru pulang haji, karena membawa banyak sekali oleh-oleh berupa air zamzam, kurma, dan lain sebagainya. Berbicara masalah umrah, ada tips terbaik cara cak izin resmi travel umrah agar terhindar dari penipuan. 

Ada pula kasus dimana barang belanjaan kita terkena biaya pajak bea cukai sekalipun tidak melebihi batas. Agar terhindar dari masalah tersebut, tentunya ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan. 

Terhindar Dari Pajak Berlebih Saat Travel

Perlu dicatat sebelumnya bahwa tips ini bukanlah tutorial untuk menyelundupkan barang bawaan saat di bandara, melainkan hal-hal yang harus dilakukan agar terhindar dari pajak secara legal.

Dengan menggunakan saran di bawah ini, maka kamu bisa mengurangi biaya yang tak diperlukan. 

Bayangkan jika kamu dihalau di bandara karena barang bawaan. Sudah beli oleh-oleh dengan harga mahal misalnya saat liburan ke Hongkong, namun tetap harus membayar pajak bea cukai. Dibuang sayang, akhirnya mau tak mau harus membayar pajak yang terkadang bisa bikin kita gigit jari.

Apalagi jika barang belanjaan kamu termasuk ke dalam barang berkelas atas, maka ada beban biaya tambahan berupa pajak barang mewah yang berkisar antara 10%-200%.

Agar terhindar dari momen lucu di atas, maka ikuti 5 langkah di bawah ini:

  1. Ketahui batas maksimal unit barang yang boleh dibawa. Misalnya rokok sigaret tidak boleh lebih dari 200 batang, minuman beralkohol tidak boleh lebih dari 1 liter, dan lain sebagainya.
  2. Preteli barang baru. Keluarkan barang-barang yang sudah dibeli dari dalam box atau kardusnya. Jika masih dalam bentuk utuh, maka bisa masuk pajak pabean yang mahal.
  3. Hindari membeli barang fashion mewah atau bahkan perhiasan. Barang-barang berharga seperti emas dan berlian sudah bisa dibeli di negara kita, jadi mending tak usah beli jauh-jauh ke luar negeri. Tas bermerk juga seringkali jadi sasaran, sekalipun sudah dibuka dari box-nya.
  4. Hindari membawa uang tunai yang banyak. Bea cukai akan mencurigai kita jika membawa terlalu banyak uang tunai dalam sekali jalan. Jadi hindari membawa fulus di atas 100 juta rupiah. Praktisnya, gunakan kartu ATM yang memiliki logo Visa atau Mastercard, sehingga kita bisa mengambil uang secara langsung di mesin ATM dan dikonversi secara otomatis dari rupiah ke mata uang negara bersangkutan.
  5. Hindari barang melebihi kuota atau tak wajar. Misalnya, kita membawa handphone dan laptop di atas 2 buah, melebihi timbangan, dan lain sebagainya. 

Memang terasa sayang sekali jika kita tak membeli barang-barang unik di negara tertentu untuk dibawa pulang ke Indonesia.

Tetapi jika membawa bencana ketika di pabean, malah akan merusak kenangan travel kamu. Jadi, mending belanja sewajarnya saja. Sebagai gantinya, nikmati momen berlibur kamu dengan mengunjungi tempat-tempat asing dan unik bersama orang tersayang.