Jalur Pendakian Gunung Batu yang Terjal dan Menantang

Beberapa tahun yang lalu, sebuah tempat bernama Jongol begitu viral di kalangan masyarakat kita, gegara sebuah lirik lagu berjudul “Bapak mana Bapak”.

Tapi siapa sangka, ternyata lagu tersebut sempat membawa banyak sekali wisatawan untuk melihat langsung sebuah tempat yang terletak di kota Bogor tersebut.

Terletak di kaki pegunungan dan perbukitan, Jonggol juga ternyata menyimpan banyak sekali harta warisan berupa alam, salah satunya adalah Gunung Batu.

Sebenarnya di kalangan para pendaki gunung dan pecinta alam, Gunung Batu sudah cukup terkenal sebagai area hiking.

Nah, buat kamu yang berniat dan berminat untuk naik ke puncak Gunung Batu tersebut, maka harus tahu dulu beberapa jalur dan rute mendaki yang disediakan, karena mungkin saja tak cocok dengan kondisi badan atau pengalaman kamu saat ini.

Desa Jonggol

Gunung batu bisa kita akses selama 24 jam penuh dengan membayar biaya masuk seharga 10.000 kepada pengelola setempat. 

Akan tetapi bukan berarti kamu bisa dengan seenaknya untuk hiking ke atas puncak gunung. Tetap hindari mendaki saat sore atau malam hari, karena tidak ada penerangan sehingga lebih beresiko untuk dilakukan. 

Jika mau, maka pastikan kamu untuk hiking di pagi hari. Memang hampir tak ada penginapan di sekitaran desa Jonggol, akan tetapi kamu bisa menginap di rumah penduduk warga di sana.

Pos 1 Untuk Persiapan dan Sarapan

Setelah istirahat cukup semalaman, barulah kamu bergegas ke Pos 1 untuk membayar biaya masuk atau memarkirkan kendaraan di sana. Beberapa tempat makan untuk sarapan pun tersedia dengan harga yang murah. Lalu, langkahkan kaki kamu menuju pos 2 setelah semua persiapan matang.

Dari pos 2, maka kamu harus melanjutkan perjalanan menuju Tanjakan Kebo. Sekalipun medannya cukup ramah bagi pemula dan tak terlalu menantang, lain lagi ceritanya jika saat itu turun hujan.

Area Jonggol beralaskan tanah merah, yang mana jika basah maka akan menjadi begitu licin layaknya arena perosotan. Harap berhati-hati saat melangkah! 

Bahkan ketika hujan reda pun tanah yang basah masih bisa menjadi bencana jika kamu tak waspada. Untuk mengakalinya, cobalah mengenakan sepatu anti slip. Tapi bersiaplah alas kaki kamu menjadi begitu kotor.

Jika kamu berhasil melewati Tanjakan Kebo, maka kamu akan sampai di pos peristirahatan yaitu Shelter 2.

Shelter 2 Untuk Berkemah

Sesampainya di Shelter 2, maka pastikan kamu beristirahat sejenak di area tanah lapang. Banyak pula para pendaki yang berkemah di tempat ini karena areanya yang begitu luas.

Namun berkemah di tempat ini bukanlah suatu keharusan, karena puncak gunungnya sendiri hanya memiliki ketinggian 1000 meter saja. 

Jadi kamu tak perlu repot-repot membawa peralatan camping jika tujuan kamu hanya untuk bersantai dan melihat pemandangan di atas puncak gunung. 

Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, kamu harus mendakinya pagi-pagi jika tak berniat untuk menginap di tempat ini. Jika kesorean, maka disarankan untuk menetap satu malam di Shelter 2.

Hamparan tanah lapang di sini bisa menampung hingga lebih dari 10 tenda, sehingga tak jarang orang akan berkumpul dengan berbagai macam tujuan. 

Misalnya pada saat akhir pekan, beberapa warung akan buka dan menjajakan berbagai macam makanan dan camilan, entah itu tradisional ataupun sasetan. 

Beberapa penduduk lokal pun seringkali datang ke tempat ini untuk merasakan hawa sejuk dan berfoto ria. Jadi, disarankan untuk menginap di tempat ini pada malam minggu jika ingin merasakan keceriaan orang-orang di sekitar.

Puncak Bayangan 1

Dari Shelter 2, maka pendakian akan berubah 180 derajat sehingga seringkali tak disarankan bagi para pemula.

Tingkat kecuramannya bisa begitu menguras tenaga dan berbahaya. Jika salah sedikit saja, maka bisa mengakibatkan kecelakaan yang tak dapat ditahan. 

Terdapat kemungkinan kita akan meluncur secara bebas ke bawah akibat tarikan gaya gravitasi bumi. 

Jadi, pastikan kamu siapkan fisik dan keahlian mendaki yang sudah terpatri di dalam tubuh kamu selama ini.

Buat para pemula yang tetap kekeh untuk naik ke atas puncak, maka harus dibekali dengan peralatan seperlunya agar tidak membebani punggung, pemanasan sebelum naik, dan membawa orang yang telah terlatih bersama kamu.

Puncak Bayangan 2

Tantangan kamu pun tak berhenti sampai di sana, karena setelah memasuki area Puncak Bayangan 2, maka akan disuguhi dengan medan yang jauh lebih menantang.

Selain tingkat kecuramannya yang tinggi, juga disertai dengan bebatuan yang membuat kita nampak seperti sedang memanjat tebing. 

Sekalipun ada seutas tail yang membantu kamu untuk naik ke atas puncak, akan tetapi masih tidak disarankan bagi para pemula.

Pasalnya, saat turun gunung pun kita akan disuguhkan dengan medan yang serupa. Naik memang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, namun saat turun gunung maka kesulitannya akan berkali-kali lipat.

Puncak Gunung Batu

Dari Puncak Bayangan 2 menuju puncak gunung batu, kita masih harus mempersiapkan fisik untuk memanjat beberapa area perbatuan yang terjal. 

Namun setelah itu, kita akan sampai di puncak Gunung Batu dengan pemandangan indah kota Bogor.

Jangan salah ya! Terakhir kali kami ke tempat ini, terdapat sebuah bendera merah putih yang ditancapkan di sana, yang kemudian menjadi tanda bahwa perjalanan telah berhasil ditaklukkan.

Tak ada satupun pepohonan yang akan menghalangi pemandangan di atas puncak gunung, sehingga bisa menjadi hadiah terbaik setelah melakukan perjalanan panjang yang penuh dengan resiko. 

Namun sekalipun ada banyak pos yang harus kita lalui, perjalanan dari kaki gunung hingga puncak sebenarnya bisa dilakukan kurang dari 3 jam saja tanpa beristirahat.

Satu-satunya masalah adalah terletak pada medan itu sendiri, yang seringkali menghabiskan banyak waktu untuk mendaki, merangkak, dan berpegangan pada seutas tali.

Mendirikan Tenda

Khusus buat kamu yang ingin melihat pemandangan matahari terbenam di sore hari, melihat lampu indah kota di malam hari, serta hamparan bintang di langit-langit saat di gunung, maka disarankan untuk kembali ke Shelter 2 sebelum menjelang malam.

Di sana, kamu dapat dengan mudah mendirikan tenda berkat kondisi tanahnya yang datar. Siapkan uang 5000 rupiah untuk izin mendirikan tenda ya!

Selain itu, selalu waspada terhadap barang bawaan karena selalu ada pencuri kecil yang menginvasi tempat kita menginap, yakni para kera.

Penduduk setempat menyebut kera tersebut dengan sebutan lutung, dan seringkali mencuri berbagai macam bahan makanan yang kita bawa dari rumah.

Beberapa tas dan barang penting lainnya juga kerap kali menjadi sorotan utama. Meskipun sebenarnya mereka hanya mencari makanan, akan tetapi tak pernah pilih-pilih untuk membawa barang-barang yang kita bawa. Selalu sembunyikan di dalam tenda untuk terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan. 

Perhatikan juga sampah kota yang kamu bawa. Beberapa area memang seringkali dikotori oleh para traveler dan pendaki yang kurang bertanggung jawab, jadi jangan kamu tambah lagi penderitaan Gunung Batu mungil ini ya!