Gunung Jaya Wijaya, Satu-Satunya Area Bersalju di Indonesia

Sebuah pegunungan yang disebut sebagai Orange Range kini telah berubah nama menjadi Gunung Jaya Wijaya, yang mana terletak di Pegunungan Maoke di wilayah paling timur NKRI.

Jangkauannya sendiri membentang sejauh 370 KM di sebelah timur Pegunungan Sudirman hingga Bintang. 

Dengan ketinggian hingga mencapai 4.884 mdpl, banyak para pendaki gunung bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki mereka di sana dan kemudian menaklukkan puncaknya.

Akan tetapi, sebagian besar diantaranya haruslah mengubur dalam-dalam impian tersebut karena terdapat beberapa hal yang tak bisa dilalui. 

Jadi, jangan serta merta mengemas barang lalu pergi ke puncak Gunung Jaya Wijaya. Pastikan dulu membekali diri dengan informasi dan fakta menarik darinya, yang mana telah dituliskan secara lengkap di bawah ini. 

Puncak Tertinggi di Indonesia

Bukan tertinggi di pulau Jawa ataupun pulau Irian, melainkan di seluruh Indonesia. Dengan ketinggian hingga mencapai 4.884 mdpl, bahkan Gunung Jaya Wijaya berhasil menempatkan dirinya sebagai gunung tertinggi kedua di Asia.

Jadi tak heran jika pegunungan ini tak cocok dilalui oleh para pemula. Bukan hanya dari segi ketinggiannya saja, juga ada faktor lain yang membahayakan seperti suhu udara, cuaca, jalur pendakian yang curam, hingga tingkat kegagalan yang begitu tinggi.

Indonesia termasuk ke dalam negara tropis, sehingga seringkali penduduk masyarakatnya tak kuat dengan hawa dingin. 

Sementara di rute perjalanannya saja, Gunung Jaya Wijaya rata-rata memiliki suhu di bawah 0 derajat, yang membuatnya memiliki area bersalju.

Satu-satunya Area Bersalju di Indonesia

Mungkin ini bisa menjadi hal paling unik dan menarik yang ada di Indonesia. pasalnya, negara kita ada di lintasan garis khatulistiwa sehingga hanya memiliki 2 musim secara stabil sepanjang tahun. 

Kondisi inilah yang membuatnya tak memiliki musim dingin dan tak akan pernah didatangi oleh salju putih. 

Namun lain lagi jika kamu pergi ke puncak Gunung Jaya Wijaya. Berkat ketinggiannya yang hampir mencapai 5 KM dan cuacanya yang begitu dingin, pemandangan bersalju sudah bukan hal aneh lagi yang akan kamu lihat.

Sayangnya, tak semua area di pegunungan ini ditutupi oleh area salju. Apalagi dampak dari pemanasan iklim secara global yang akan berpotensi menghilangkan gletser di tempat tersebut.

Bahkan peneliti menyebutkan bahwa diantara pegunungan yang memiliki gletser di dunia, maka yang akan pertama kali kehilangan area bersaljunya adalah Gunung Jaya Wijaya.

Jadi, mungkin sekarang kita masih bisa bermimpi untuk melihat area bersalju di gunung tanpa harus jauh-jauh pergi ke luar negeri.

Akan tetapi jarang orang tahu bahwa suatu hari nanti, salju yang dimiliki oleh Gunung Jaya Wijaya akan hilang kurang dari 10 tahun lagi. Patut disayangkan!

Memiliki Puncak Bernama Carstensz

Fakta menyedihkan lainnya adalah ketika Gunung Jaya Wijaya ini ditemukan pertama kali oleh pelaut dan navigator asal Belanda bernama John Carstensz, sehingga membuatnya memiliki nama asing (dan bukan nama Indonesia).

Meskipun begitu, kita tetap patut bersyukur karena berkatnya kini Gunung Jaya Wijaya menjadi salah satu spot pendakian yang terkenal di hampir seluruh dunia. 

Banyak para pendaki yang berbondong-bondong dari berbagai macam tempat untuk bisa sampai di puncak Carstensz tersebut, sehingga memberikan keuntungan bagi negara kita berupa devisa dalam sektor pariwisata.

Carstensz berhasil menemukan gunung ini pada abad ke-17 seorang diri. Namun ekspedisi besar-besaran baru dilakukan pada tahun 1899 oleh orang Belanda untuk membenarkan cerita dari sang penemu gunung tersebut. Pada tahun itu jugalah, puncak gunung ini akhirnya diberi nama Carstensz.

Pendakian Termahal di Dunia

Dikarenakan aksesnya yang begitu sulit dan jalur pendakiannya yang tak boleh kita sepelekan begitu saja, maka membuat biaya pendakiannya menjadi yang termahal di dunia, yakni mencapai 50 juta rupiah untuk bisa mengantarkan kita hingga puncak Carstensz.

Bahkan bagi para bule dan turis asing, harganya semakin mencekik hingga sampai 80 juta rupiah untuk satu orang saja.

Untuk alasan ini pulalah, sebagian besar para pendaki di Indonesia mengubur impiannya untuk dapat menaklukkan puncak Gunung Jaya Wijaya.

Sebagai informasi, harga pendakian ke gunung tertinggi di Nepal bernama Everest saja tidak sampai segitu. Jadi tak heran jika biaya pendakian di tempat ini menjadi yang termahal di dunia.

Lantas, masihkah ada orang yang naik ke puncak gunung dan menggunakan jasa ekspedisi menuju area Carstensz?

Tentu aja ada. Para pendaki sejati yang tajir mencoba untuk mampu menaikinya hingga titik tertinggi.

Namun sejauh ini, hanya kurang lebih 500 orang yang pernah mencapai Puncak Jaya, karena pegunungan ini amatlah terpencil dan berbahaya.

Bukan hanya dari faktor jalurnya saja, beberapa para pendaki mengaku bahwa terdapat para suku asli yang tak suka didatangi oleh orang asing. 

Saking berbahayanya, beberapa orang bahkan sampai rela menyewa helikopter untuk bisa bertengger di atas puncak Jaya Wijaya tanpa harus merasa kelelahan. 

Anggota Seven Summits

Seven Summits atau tujuh puncak terdiri dari gunung-gunung tertinggi yang mewakili dari tujuh benua berbeda, diantaranya Everest, Aconcagua, Denali, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson, dan Jaya Wijaya.

Sayangnya, banyak orang yang lebih mengenal nama Jaya Wijaya tersebut dengan sebutan Piramida Carstensz, sehingga nampak tak mewakili nama Indonesia itu sendiri.

Seorang pendaki profesional bernama Alison Levine telah mendaki ketujuh puncak tersebut, termasuk ke Gunung Jaya Wijaya.

Terdapat pula desas-desus yang menyebutkan bahwa demi bisa mencapai semua puncak tersebut, kita harus merogoh kocek hingga $162.139, atau setara dengan 2,3 milyar rupiah, dengan Gunung Jaya Wijaya yang paling termahal.

Dipenuhi Dengan Turis Asing

Biaya pendakian yang ditawarkan oleh Gunung Jaya Wijaya membuatnya lebih didominasi oleh para pendaki asing.

Sekalipun semua operator tur dan bisnis pariwisata terkait telah didesak untuk mempertimbangkan kembali penawaran tersebut kepada para wisatawan, akan tetapi puncak Gunung Carstensz masih terus aktif dibuka untuk semua orang.

Padahal, pemberitahuan tersebut dikeluarkan demi mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan menjamin keselamatan wisatawan asing.

Tepat di puncak Carstensz sana, maka resiko seseorang terkena kecelakaan hingga kematian sangatlah tinggi. Apalagi suhu dan cuacanya yang lebih sering disiram air hujan. Bayangkan saja, dari satu tahun ada 300 hari yang disertai dengan hujan. 

Dengan kondisinya tersebut, maka kemungkinan besar para pendaki akan terus diserang oleh hujan air, es, hingga salju yang berperan besar terhadap pembentukan gletser di area tersebut.

Tapi tentunya ketiga faktor itu bukanlah hal yang perlu mereka khawatirkan, terutama diantara para pendaki profesional.

Soalnya, disebutkan pula bahwa diantara anggota Seven Summits, gunung Jaya Wijaya memiliki iklim terhangat.

Dengan begitu, para pendaki asing lebih mampu bertahan karena sudah terbiasa tinggal di negaranya yang memiliki 4 musim berbeda. Rata-rata suhu puncak Gunung Jaya Wijaya sendiri adalah berkisar antara 10 derajat dan minus 6 derajat celcius. Kondisi suhu tersebut tentunya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka.