Gunung Leuser, Taman Nasional Rumahnya Flaura dan Fauna Langka

Sambil melindungi berbagai macam ekosistem, sebuah taman nasional bernama Gunung Leuser ini bisa menjadi objek wisata yang tak boleh kita lewatkan saat berkunjung ke Sumatera Utara.

Dengan luas hingga mencapai 7.927 km persegi, kita pun bisa mengunjungi sebuah suaka Orangutan di Bukit Lawang yang masih terletak di dalam taman itu sendiri.

Tak berhenti sampai di sana, kita pun akan disuguhkan dengan berbagai macam fauna langka yang sangat dilindungi, diantaranya rangkong, beruang madu, gajah sumatera (populasi terakhir), harimau, dan badak sumatera.

Gunung Leuser memang akan sangat cocok sekali buat kamu para pecinta hewan. Untuk itulah, wajib membaca informasi di bawah ini jika kamu berniat untuk mengunjungi rumahnya flora dan fauna langka yang satu ini.

Punya Sejarah Panjang

Sekalipun para penjajah Belanda memang senantiasa mengeruk kekayaan bumi pertiwi sambil memberikan kesengsaraan terhadap pribuminya, akan tetapi kita tak boleh melupakan hal-hal positif yang mereka berikan, seperti misalnya Taman Nasional Gunung Leuser ini.

Taman Nasional Gunung Leuser bahkan telah lahir sebelum Indonesia merdeka, tepatnya ketika masih di zaman Hindia Belanda pada tahun 1920-an. 

Dikarenakan usianya tersebut jugalah, Gunung Leuser menjadi Taman Nasional pertama yang didirikan di Indonesia, bersama dengan 5 jenis lainnya yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Luas dari area ini juga ternyata mencakup 2 provinsi besar, yakni DI Aceh dan Sumatera Utara, sehingga kamu pun dapat mengaksesnya melalui kedua wilayah tersebut.

Dihormati Mata Dunia

Salah satu hal yang membanggakan dari Gunung Leuser adalah mampu membawa 2 status dan martabat tinggi di mata dunia. 

Tepatnya pada tahun 1981, Taman Nasional Gunung Leuser ditetapkan sebagai Cagar Biosfer. Tak lama berselang dari sana, UNESCO kemudian memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai World Heritage atau Warisan Dunia pada tahun 2004.

Cagar biosfer sendiri merupakan sebuah kawasan ekosistem berupa daratan, lautan, dan pesisir yang dikelola dengan tujuan untuk menyeimbangkan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Mengingat Taman Nasional Gunung Leuser sendiri memang menjadi rumahnya bagi para hewan langka, maka tak heran jika ia menyandang status berkelas internasional tersebut.

Dengan begitu, Taman Nasional ini pun memiliki tugas baru yang benar-benar penting bagi kehidupan manusia dalam jangka panjang, yakni tetap melestarikan keanekaragaman genetik dalam ekosistem yang representatif dengan cara melindungi satwa liar, gaya hidup tradisional penduduk, dan sumber daya genetik berupa flora dan fauna.

Secara keseluruhan, Gunung Leuser mampu memfasilitasi dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi secara berkelanjutan, serta manusia yang ramah lingkungan, dan sosial budaya di Indonesia.

Ekosistem yang Lengkap

Dimulai dari penebangan liar, pembakaran hutan, hingga berbagai macam aktivitas merusak alam lainnya seringkali membuat flora dan fauna di Indonesia menjadi merasa kesakitan. 

Dulu yang katanya sebagai negara terkaya karena memiliki dua unsur tersebut, sekarang malah hampir musnah. Bahkan beberapa diantaranya – seperti gajah sumatera – tinggal memiliki populasi terakhir yang berlindung di Taman Nasional Gunung Leuser.

Di saat yang bersamaan pula, tempat ini menjadi pelindung hampir semua ekosistem yang telah terancam akibat aktivitas manusia yang serakah. 

Bahkan bisa dibilang Gunung Leuser ini menjadi tempat paling penting bagi satwa yang dilindungi di seluruh Asia Tenggara.

Hampir segala sesuatu yang dibutuhkan alam ada di sini, dimulai dari pesisir pantai hingga pegunungan. 

Bahkan jenis hutannya pun sangat beragam, dimulai dari hutan bakau, rawa, hujan dataran rendah, lumut, hingga subalpine.

Rumahnya Bagi Rafflesia

Keunikan Indonesia juga terpancar pada tumbuhan khas tropis bernama Rafflesia. Menariknya, kita bisa menemukan banyak sekali flora tipe ini dengan mudah jika berkunjung ke Gunung Leuser.

Dikenal pula dengan sebutan Bunga Bangkai, Rafflesia memiliki ciri unik berupa baunya yang seperti daging busuk. 

Tidak seperti kebanyakan tumbuhan, bunga ini pun tak memerlukan energi dari sinar matahari untuk dapat membuat makanannya sendiri atau berfotosintesis. Oleh karenanya, mampu hidup di area gelap yang tertutupi pepohonan rindang di hutan hujan Indonesia.

Menariknya lagi, Rafflesia ini masuk ke dalam tumbuhan parasit yang mencoba mengeruk semua nutrisi dan air dari inangnya, yakni pepohonan yang ada di sekitarnya tersebut.

Saking hebatnya, lahir sebuah jenis baru dari tanaman Rafflesia di Gunung Leuser, yang kemudian diberi nama Lawangensis.

Jalur Pendakian Terpanjang se-Asia Tenggara

Intinya, kamu harus bersiap untuk menginap di tempat ini selama berhari-hari, pasalnya Gunung Leuser memiliki rute dan jalur pendakian terpanjang di Asia Tenggara.

Dengan perjalanan yang membentang hingga 110 KM, kebanyakan para traveler dan pendaki harus menghabiskan rata-rata waktu mereka selama 6 hingga 7 hari. 

Dengan menggunakan jalur pulang yang sama, maka total waktu yang harus kamu sisihkan untuk menjelajahi Gunung Leuser adalah mencapai 2 minggu.

Namun bukan berarti kamu akan merasa bosan selama masa kunjungan tersebut. Malah akan mendapatkan berbagai macam temuan yang menjadi catatan pengalaman pribadi saat naik gunung. 

Karena sebagai laboratorium alam yang luas, ada banyak sekali satwa kecil yang mungkin menampakkan dirinya di tengah-tengah kita, sebut saja mamalia, reptil, burung, ikan, hingga invertebrata.

Jenis burung yang tercatat di Gunung Leuser bahkan mencapai hingga 380 spesies. Sementara mamalinya mencapai 205 spesies yang beberapa diantaranya merupakan hewan dilindungi. 

Bagi para binatang langka seperti Gajah Sumatera, mungkin Gunung Leuser menjadi rumah terakhir bagi mereka. Perkebunan sawit yang memecah belah ekosistem menjadi penyebab utama para gajah memotong migrasi mereka, sehingga membuatnya merasa kesulitan untuk menemukan makanan dan air yang cukup.

Jika ini terjadi lagi, maka kemungkinan besar banyak fauna yang akan punah.

Menjaga Kehidupan yang Seimbang

Jika misalnya Taman Nasional Gunung Leuser ini ikut dirusak, maka akan menjadi bencana bagi masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. 

Ini karena lebih dari 4 juta penduduk Indonesia yang tinggal di sekitaran daerah tersebut bergantung kepada kekayaan alamnya.

Dimulai dari persediaan air, kesuburan tanah, pengairan untuk tanaman, hingga pengendalian banjir, semuanya dilakukan oleh Gunung Leuser – dan itu dari contoh kecilnya saja.

Jadi, bukan hanya flora dan fauna saja yang akan mati dan punah, melainkan juga akan berdampak secara langsung terhadap kehidupan manusia di sekitarnya.

Untuk alasan ini pulalah, segala sesuatu harus dimulai dari yang terkecil. Misalnya, ketika kita berkunjung ke Gunung Leuser, pastikan untuk tidak mengotorinya dengan sampah dari kota.

Waktu Kunjungan yang Disarankan

Meskipun Taman Nasional Gunung Leuser dibuka untuk umum sepanjang tahun, akan tetapi akan lebih baik jika kamu menghindari curah hujan yang tinggi di tempat ini. 

Dengan begitu, cobalah menikmati keindahan alamnya antara bulan Juni sampai bulan Oktober. Biasanya, cuaca tersebut sangatlah bersahabat pada kondisi tubuh kita untuk menginap, berkemah, dan menyatu dengan alam. 

Siapkan segala macam kebutuhan dasar, terutama air minum agar kamu tak mengalami dehidrasi yang parah selama masa pendakian dilakukan. Hati-hati juga terhadap serangga tropis yang berpotensi membawa penyakit berbahaya.