5 Fakta Menarik Tentang Gunung Pangrango, Wajib Diketahui Pendaki

Menurut Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Gunung Pangrangu menduduki tingkat pertama sebagai jalur pendakian yang baling banyak dikunjungi oleh wisatawan. 

Selain rutenya yang menantang dan tak dikhususkan bagi para pendaki pemula, gunung ini juga menjadi tempatnya rehabilitasi bagi Owa Jawa yang sudah hampir punah.

Beberapa curug pun menghiasi beberapa lokasi dan rute perjalanan, yang salah satunya ditemukan oleh 3 orang petugas bernama Andri, Dadang, dan Amas, yang kemudian diberi nama Curug Andamas.

Perjalanan para pendaki ini biasanya akan terus berlanjut hingga ke puncak bukit, yang mana menyajikan pemandangan indah dari ketinggian dan rumahnya bagi bunga Edelweiss.

Tentunya dari beberapa informasi dasar tersebut saja sudah bisa bikin kita ngebet untuk segera mendaki, akan tetapi wajib mengetahui fakta-fakta penting tentang Gunung Pangrango, terutama jika ini adalah kali pertama kamu mendaki ke tempat ini.

Tak Cocok Bagi Pemula

Gunung Pangrango menjadi salah satu puncak tertinggi di Jawa Barat, tepatnya menduduki peringkat kedua setelah Gunung Ceremai. 

Meskipun menjadi gunung yang paling banyak didaki oleh para adventurer, akan tetapi kita tak boleh menyepelekan medannya yang begitu menantang. 

Gunung Pangrango sendiri dipenuhi dengan hutan tropis bersama dengan vegetasinya yang lebat. Alhasil, kita akan menemukan banyak sekali cabang trek yang harus dilewati. Untuk itulah banyak pula para pendaki yang tersesat di kedalaman hutan. 

Jika kamu seorang pendaki pemula tetapi masih kekeh ingin naik ke gunung ini, maka pastikan membawa satu atau dua orang yang sudah terlatih dan tahu akan medan di sana. 

Pasalnya jika tersesat, kita harus berhadapan dengan beberapa satwa liar seperti macan kumbang dan harimau. 

Patut dicatat juga bahwa Gunung Pangrango merupakan habitatnya dari kedua satwa ganas yang dilindungi tersebut. Untuk alasan ini pulalah, kita tak disarankan untuk pergi ke puncak setelah gelap, karena macan dan harimau termasuk ke dalam hewan nokturnal dan sangat aktif di malam hari.

Agar kita bisa mencapai puncaknya, maka membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam dari bumi perkemahan Kandang Badak. Dengan medannya yang menantang dan menanjak, maka harus siapkan fisik dengan sebaik-baiknya.

Rumahnya Bunga Edelweiss

Di puncak gunung sana, kita akan menemukan tanaman abadi yang disebut sebagai Edelweiss. Diberi julukan abadi karena memang bunga ini tak akan layu sekalipun telah terpetik dari tangkainya.

Akan tetapi, kita dilarang untuk memetiknya secara liar. Selalu ada pemeriksaan saat turun gunung, dan jika kedapatan membawa satu tangkai bunga atau lebih, maka bisa mendapatkan hukuman dan denda.

Edelweiss sendiri merupakan sebuah tanaman alpine kecil yang berbunga putih dan berasal dari lokasi pegunungan. Tentunya tidak semua gunung memiliki tanaman indah yang satu ini, dan hanya bisa kita temukan di lokasi tertentu saja, dan Gunung Pangrango adalah salah satunya. 

Kelopak dan daunnya yang berbulu mengisyaratkan makna romantisme, dan warna putihnya memberikan simbolisme kemurnian atau kepolosan. Tentunya sangat cocok dengan gambaran dari Gunung Pangrango itu sendiri.

Meskipun di puncak terdapat beberapa sampah kota yang dibawa oleh para pendaki jorok dan tak bertanggung jawab, tapi selalu ada beberapa petugas yang senantiasa mengontrol dan membersihkan hasil karya keteledoran orang-orang tersebut. 

Namun bukan berarti kamu harus kembali mengotorinya. Apalagi sampah plastik yang membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai. Jadi sayangi gunung sebelum mereka marah dan mendatangkan malapetaka.

Banyak Owa Jawa

Hewan primata langka bernama Owa Jawa ini sudah hampir punah sebagai efek eksploitasi dari orang-orang ganas tak bertanggung jawab.

Jumlah mereka semakin menipis dari tahun ke tahun akibat perusakan hutan sebagai rumah mereka dan diburu, dijual, dibunuh, atau dijadikan hewan peliharaan yang eksotis.

Untungnya, pemerintah Indonesia sangatlah tanggap akan hal tersebut dan terus berusaha agar menyediakan rumah bagi Owa Jawa, yang mana berlokasi di Gunung Pangrango yang tengah kamu lirik saat ini. 

Untuk alasan ini pulalah, kita akan mendapati segerombolan makhluk primata tersebut yang tengah asyik bergelayutan di atas pohon. Sekalipun nampak mudah dan asyik saat kita melihatnya, tapi jangan ditiru ya!

Memiliki Jembatan Gantung Terpanjang

Meskipun bukanlah terpanjang di dunia, akan tetapi Gunung Pangrango masih menyediakan jembatan terpanjang di seluruh Asia Tenggara.

Dengan lebar 1,2 meter dan panjang hingga 243 meter, kaki kita akan menapak di selembar kayu di atas ketinggian lengkap dengan lanskap hijau di sekitarnya. 

Tinggi dari jembatannya sendiri mencapai hingga 107 meter, dan mungkin akan menjadi tantangan tersendiri bagi para pengidap akrofobia, atau fobia terhadap ketinggian. 

Secara keseluruhan, jembatan yang diberi nama “Situ Gunung Suspension Bridge” ini sangatlah menakjubkan dan benar-benar direkomendasikan buat kamu yang suka dengan petualangan serta alam liar. 

Tempat ini terbuka untuk umum dan dikelola dengan begitu baik. Sebagai bagian dari keselamatan, kita akan diberi pengaman berupa tali atau sabuk oleh kru tim. Terdapat harga yang harus dibayarkan tentunya.

Tiket reguler seharga 50 ribu sudah termasuk snack, menikmati 2 jembatan, dan melihat pemandangan air terjun Curug Sawer. 

Berbeda dengan jajanan ringan yang nol nutrisi, snack yang akan kita dapatkan dari paket tersebut diantaranya pisang, singkong, teh panas, dan kopi hitam - jauh lebih tradisional, lezat, dan menyehatkan. 

Jika ada panggilan alam mendadak pun tak perlu panik, karena terdapat toilet yang juga senantiasa dijaga kebersihannya. Musholla dan teater juga disediakan buat kamu yang membutuhkan fasilitas tersebut.

Punya 2 Curug Dengan Nama Sama

Curug Cibeureum, begitulah orang lokal menamainya. Akan tetapi, entah secara kebetulan atau tidak, terdapat 2 buah curug yang memiliki nama sama di area tersebut. Satunya berada di Kabupaten Cianjur, dan satunya lagi berada di Sukabumi. 

Buat kamu yang belum tahu, Gunung Gede Pangrango sendiri menjadi simbol yang memisahkan dua kota besar, yaitu Cianjur dan Sukabumi. 

Untuk Curug Cibeureum yang terletak di Cianjur, maka harus masuk ke sebuah tempat wisata bernama Taman Nasional Cibodas. Kemudian berjalan sejauh 1 jam dari gerbang depan. 

Kita tak bisa membawa kendaraan untuk sampai di curug tersebut karena harus menyusuri jalan setapak yang ramah pengguna.

Udaranya sangat sejuk dan segar, serta suasana lingkungannya yang dapat menenangkan pikiran dari berbagai macam masalah hidup.

Sementara untuk jenis yang ada di Sukabumi, maka kita harus mengaksesnya lewat Resort Selabintana dan harus berjalan selama 1,5 jam dari gerbang depan. 

Air terjunnya memiliki ketinggian hingga 60 meter, dan terletak di ketinggian 1.300 mdpl. Jadi tak heran cuacanya terasa sejuk, atau bahkan terkadang dingin pada waktu-waktu tertentu. Airnya juga sangatlah jernih dan belum ternodai oleh limbah pabrik maupun sampah dapur.

Meskipun jarak perjalanannya bisa bikin kita kelelahan dan pegal-pegal, akan tetapi semua usaha kamu untuk sampai ke tempat ini akan terbayarkan dengan lunas.